Kilatan masa depan Liverpool muncul dan hilang dalam hitungan detik di London Utara. Trio rekrutan anyar bernilai sekitar 300 juta pounds memecah pertahanan Tottenham, sebelum cedera Alexander Isak meredam euforia yang baru menyala.
Liverpool akhirnya menang dalam laga yang kacau dan penuh kartu merah. Namun kemenangan itu datang dengan harga mahal: Isak kembali bermasalah dengan kebugaran.
Di sisi lain, Tottenham menutup malam dengan sembilan pemain setelah dua kartu merah, sekaligus menelan kekalahan kandang ke-11 mereka di liga sepanjang 2025.
Kilatan Trio Mewah Liverpool yang Terhenti
Segalanya dimulai dari kesalahan fatal lini belakang Tottenham. Umpan ceroboh Cristian Romero dimanfaatkan Liverpool dalam tempo kilat, tak sampai enam detik. Hugo Ekitike mengirim bola ke Florian Wirtz, yang menemukan ruang sempurna.
Hanya dengan satu sentuhan, Wirtz membaca pergerakan Alexander Isak. Umpan terobosan dilepas dan Isak menuntaskannya dengan sepakan pertama yang klinis.
Inilah gambaran yang diharapkan Liverpool saat memecahkan rekor transfer klub untuk mendatangkan Isak dari Newcastle senilai 125 juta pounds.
Sayangnya, momen gemilang itu tertutup secepat terbuka. Saat mencoba memblok, Micky van de Ven menabrak Isak. Wajah sang penyerang menunjukkan kekhawatiran instan, dan perayaan gol Liverpool pun terpotong.
Isak sempat melanjutkan laga, tetapi akhirnya tertatih keluar 10 menit kemudian karena cedera pergelangan kaki.
Ekitike Menjawab, Frank Menggugat
Liverpool tetap menggandakan keunggulan melalui Ekitike. Sundulan kerasnya menjadi gol kedua, meski memicu protes keras dari kubu tuan rumah. Romero menerima kartu kuning pertama setelah memprotes keputusan wasit.
Ekitike menegaskan posisinya. “Ini bagian dari permainan. Dia bek, saya penyerang. Saya menilai umpan silang itu lebih baik daripada dia,” katanya.
Namun, pelatih Tottenham Thomas Frank tidak sependapat. Ia menilai dorongan Ekitike terhadap Romero sebagai kesalahan besar wasit. “Saya pikir ada dua tangan jelas tersembunyi di punggung. Saya tidak mengerti keputusannya,” ujar Frank.
Gol ini menjadi gol kelima Ekitike dalam tiga laga Premier League terakhir, sekaligus penentu kemenangan Liverpool.
Kartu Merah, Amarah, dan Tottenham yang Kehilangan Arah
Tottenham sebenarnya tampil menjanjikan sebelum segalanya berubah. Mereka kehilangan Xavi Simons di babak pertama setelah tekel dengan studs terangkat mengenai betis Virgil van Dijk.
Di stadion, tekel itu tampak tak terlalu keras. Namun tayangan ulang membuat kartu merah terasa tak terelakkan. Wasit John Brooks memastikannya setelah melihat monitor pinggir lapangan, keputusan yang disambut kemarahan suporter tuan rumah.
Keadaan memburuk ketika Romero mendapat kartu merah kedua setelah menendang Ibrahima Konate, membuat Spurs harus bermain dengan sembilan pemain.
Slot: Progres Ada, Kontrol Masih Kurang
Meski unggul jumlah pemain, Liverpool gagal menutup laga dengan tenang. Richarlison sempat memperkecil ketertinggalan, memicu tekanan akhir dari Spurs.
Bahkan dengan sembilan pemain, Tottenham masih memaksa Alisson melakukan penyelamatan krusial untuk menggagalkan peluang Pedro Porro.
Pelatih Liverpool, Arne Slot, mengakui timnya belum sempurna. “Rasanya seperti kami yang bermain dengan sembilan pemain. Serangan demi serangan datang,” kata Slot.
Slot juga menyoroti pemborosan penguasaan bola dan kegagalan memanfaatkan keunggulan numerik. Namun, ia melihat tanda-tanda progres, termasuk assist Premier League perdana Wirtz. “Ini belum sempurna, tetapi tim terus membaik,” tutupnya.





