Bek Timnas Indonesia, Justin Hubner, akhirnya mencatatkan momen spesial dalam karier Eropanya. Untuk pertama kalinya di Eredivisie, pemain Fortuna Sittard itu menorehkan namanya di papan skor dan gol tersebut datang di saat paling krusial.
Bertandang ke markas Go Ahead Eagles di Stadion De Adelaarshorst, Minggu (11/1/2026), Fortuna Sittard nyaris pulang tanpa poin. Namun di detik-detik akhir laga, Hubner tampil sebagai pahlawan. Golnya pada menit ke-93 memastikan laga berakhir imbang 2-2, sekaligus menyelamatkan tim dari kekalahan.
Menariknya, gol itu seolah sudah diramalkan sendiri oleh Hubner. Bek berusia 22 tahun tersebut mengaku memiliki firasat kuat sebelum laga dimulai. Ia bahkan sempat mengirim pesan kepada kekasihnya, Jennifer Coppen, yang saat ini berada di Indonesia.
“Sebelum pertandingan, saya mengirim pesan kepada tunangan saya, yang sekarang sedang berada di Indonesia, bahwa saya akan mencetak gol,” ujar Hubner, dikutip dari media Belanda Limburger.
“Dan sebenarnya saya hampir tidak pernah mengatakan hal seperti itu, karena saya jarang mencetak gol. Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Seperti firasat,” tambahnya.
Gol Manis di Tengah Tekanan
Gol tersebut lahir dari skema serangan terakhir yang dieksekusi dengan sempurna. Berposisi sebagai bek kiri, Hubner nekat merangsek naik ke kotak penalti dan menyambut umpan lambung dengan tenang—mengirim bola ke gawang lawan dan membungkam stadion.
Momen itu terasa semakin manis karena sepanjang pertandingan Hubner terus menjadi sasaran tekanan dan teriakan suporter tuan rumah. Alih-alih tertekan, ia justru menikmati momen pembalasan itu.
“Mencetak gol di momen seperti itu terasa jauh lebih nikmat, apalagi karena penonton tuan rumah terus meneriakkan berbagai hal kepada saya sepanjang pertandingan,” ucapnya.
“Apakah teriakan itu menyenangkan? Tidak, tentu saja tidak,” lanjut Hubner, sambil tersenyum.
Pembuktian Seorang Justin Hubner
Selama ini, Hubner kerap menjadi sorotan di Belanda. Gaya bermainnya yang agresif membuatnya identik dengan tekel keras serta koleksi kartu kuning dan merah. Tak sedikit yang menilai dirinya hanya mengandalkan fisik.
Namun lewat gol ini, Hubner ingin mengubah narasi tersebut. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan sekadar bek keras, melainkan pemain dengan kemampuan teknis dan pemahaman permainan yang matang.
“Eredivisie butuh pembiasaan, karena di Inggris kami bermain lebih keras. Di sini, mereka belum terbiasa dengan gaya tekel saya,” jelas Hubner.
“Saya sering mendapat kritik dari orang-orang yang mengira saya hanya bisa menjatuhkan lawan. Tapi seperti yang bisa Anda lihat, saya juga bisa bermain sepak bola dan bertahan,” tegasnya.
Gol di De Adelaarshorst bukan sekadar angka di papan skor. Itu adalah jawaban, pembuktian, dan mungkin titik balik Justin Hubner bek Timnas Indonesia yang perlahan menegaskan eksistensinya di sepak bola Eropa.





