Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, akhirnya angkat bicara mengenai alasan di balik durasi kontrak John Herdman sebagai pelatih Timnas Indonesia. PSSI secara resmi mengikat Herdman dengan kontrak berdurasi dua tahun dengan opsi perpanjangan dua tahun (skema 2+2), sebuah keputusan yang sejak awal memantik beragam respons publik.
Menurut Sumardji, harapan untuk melihat Timnas Indonesia meraih prestasi secara instan dalam waktu singkat merupakan cara berpikir yang keliru. PSSI, kata dia, sejak awal telah menyadari bahwa membangun tim nasional membutuhkan waktu, kesabaran, serta proses yang tidak bisa dipaksakan.
“Jadi begini, kalau kita berbicara soal durasi kontrak, ini memang sudah kita pikirkan secara matang,” ujar Sumardji, dikutip dari kanal YouTube Liputan6.
Ia menegaskan bahwa sepak bola, khususnya di level tim nasional, tidak bisa disamakan dengan proses instan. Menurutnya, menuntut prestasi hanya dalam hitungan satu tahun adalah ekspektasi yang tidak realistis.
“Dengan skema 2+2 itu, kita paham bahwa membangun sebuah tim nasional itu tidak bisa seperti menanak nasi. Dalam satu tahun harus langsung berprestasi, itu omong kosong,” katanya menambahkan.
Sumardji kemudian mengajak publik untuk berkaca pada perjalanan Timnas Indonesia di era Shin Tae-yong. Kesuksesan yang diraih pelatih asal Korea Selatan tersebut, menurutnya, juga lahir dari proses panjang yang penuh tahapan, bukan hasil yang datang secara tiba-tiba.
“Kita harus tahu sejarah. Bagaimana Shin Tae-yong bisa sampai berprestasi, itu juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar,” ujar Sumardji.
Ia menegaskan bahwa dirinya mengikuti langsung seluruh proses tersebut, sejak awal penunjukan Shin Tae-yong hingga akhir masa tugasnya di Timnas Indonesia.
“Saya ada di situ dari awal sampai akhir. Artinya, proses itu memang butuh tahapan, dan tahapan itu membutuhkan kepercayaan dari semua pihak yang menginginkan prestasi,” lanjutnya.
Lebih jauh, Sumardji menekankan bahwa PSSI tidak menargetkan hasil jangka pendek dalam kerja sama dengan John Herdman. Fokus utama federasi bukanlah prestasi instan pada 2027 atau 2028, melainkan membangun fondasi kuat agar Timnas Indonesia mampu bersaing dan lolos ke Kualifikasi Piala Dunia 2030.
Atas dasar itulah, durasi kontrak 2+2 dinilai sebagai pilihan yang paling proporsional. PSSI ingin memastikan jajaran pelatih dapat bekerja dengan ruang yang cukup, tanpa tekanan berlebihan yang justru berpotensi menghambat kreativitas dan pengembangan tim.
“Kenapa kami mengambil durasi 2+2? Karena tujuan kami adalah tahun 2030, bukan 2027 atau 2028. Targetnya jelas, lolos ke Kualifikasi Piala Dunia,” kata Sumardji.
“Dengan durasi yang cukup, kami harus memberikan kepercayaan penuh. Tahapan itu tetap harus dilalui, meskipun saya tahu banyak yang memprotes. Itu tidak apa-apa, karena faktanya memang seperti itu,” sambungnya.
Sumardji menegaskan bahwa pendekatan jangka panjang mutlak diperlukan dalam membangun tim nasional, berbeda dengan klub yang memiliki dinamika kompetisi berbeda.
“Kalau kontrak satu tahun lalu langsung dituntut prestasi, itu tidak realistis untuk tim nasional. Ini bukan klub. Tim nasional membutuhkan waktu lebih panjang untuk benar-benar siap berprestasi,” ujarnya.
Terkait indikator kinerja atau Key Performance Indicator (KPI), Sumardji memastikan PSSI tetap menetapkan target-target yang harus dipenuhi oleh pelatih. Namun, pencapaian KPI tersebut tidak diperlakukan secara kaku.
Menurutnya, kegagalan memenuhi target jangka pendek tidak serta-merta berujung pada pemecatan pelatih. Evaluasi akan dilakukan secara konstruktif, dengan tujuan memperbaiki kekurangan secara bertahap dan berkelanjutan.
“Kami tentu punya KPI dan target tertentu. Tetapi itu bukan berarti jika tidak tercapai lalu pelatih langsung diminta mundur. Tidak seperti itu,” tutur Sumardji.
“Target-target itu menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan bertahap, hingga pada akhirnya semua bermuara pada satu tujuan besar, yaitu membawa Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030,” pungkasnya.





